Home » » Cerita tentang Zuhud; Alif Rahman

Cerita tentang Zuhud; Alif Rahman

Alif rahman
Fulan adalah seorang pemuda yang taat beribadah kepada Allah swt. Dia adalah seorang pemuda miskin namun sangat rajin menolong sesama. Dalam pikiran dan cita-citanya dia selalu ingin menjadi orang yang kaya raya.
Suatu hari di jalan yang ramai dengan kendaraan dan tak jauh dari rumah fulan, ada seorang nenek yang ingin menyebrang jalan, tapi takut karena begitu banyaknya kendaraan yang melintas.
Melihat hal tersebut, fulan kemudian bergegas menolong nenek tersebut untuk menyeberang jalan. Setelah selesai, nenek tersebut sangat berterima kasih. Si nenek merasa bahwa inilah pemuda yang tepat untuk dinikahkan dengan cucunya.
Nenek itupun mengajak fulan untuk kerumahnya. Sesampai di rumahnya nenek itu menyampaikan maksud dan tujuannya kepada fulan yaitu menikahkan fulan dengan cucunya. Awalnya fulan enggan, karena masih ingin menikmati masa mudanya, dan keinginan lain untuk menjadi kaya raya. Fulan berkata, “saya tidak bisa nek, saya ingin bekerja keras dulu, saya ingin menjadi orang kaya raya”. Nenek itu menjawab, “tidak usah khawatir nduk, saya sudah menyediakan segalanya untuk cucuku, harta yang belimpah. Jika itu miliknya, dengan menikahinya maka itupun menjadi milik kamu.”
Tanpa pikir panjang, fulan langsung menerima permintaan nenek tersebut tanpa meminta pendapat orang tuanya sendiri. Orang tuanya menasehati, agar tidak melakukan sesuatu karena kecintaan berlebihan terhadap harta, karena itu bukan perilaku terpuji dan bukan sikap zuhud. Fulan tidak peduli.
Beberapa tahun kemudian, setelah menikahi cucu nenek tersebut, kehidupan fulan menjadi kaya raya. Fulan lupa daratan, sibuk mengurusi hartanya seakan tiada cukup-cukupnya, shalat mulai ditinggalkan, sampai shalat jumat sekalipun.
Suatu hari karena urusan bisnis, fulan meninggalkan rumahnya. Ketika rumanya ditinggalkan, datanglah perampok yang menggasak semua barang yang bisa diambil, menghabisi istrinya sekaligus membakar rumah fulan.
Ketika fulan datang, kagetlah dia. Semua harta yang dia punya hilang dalam sekejap. Ia jatuh miskin, dia tidak punya apa-apa lagi. Dengan sedih hati dia meratapi nasibnya, dia menyesal. Penyesalan yang tiada guna. Inilah akibat orang yang tidak zuhud, sangat mencintai materi melebihi segalanya.
Materi pasti punah, materi terbatas, materi tidak kekal, materi adalah kebutuhan meski bukan kebutuhan satu-satunya.

*Cerita ini dibuat sebagai tugas dalam rangka evaluasi pemahaman peserta didik tentang materi Perilaku Terpuji/Zuhud dan Tawakkal, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII.
®SMPN I Belawa
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Anonim
27/09/12 20.51

GREAT
=D

Poskan Komentar

 
Modified : Celoteh Guru
Copyright © 2011. SMPN I Belawa Kab. Wajo - All Rights Reserved
Web Created by Mushlihin Published by #RM
Proudly powered by Blogger