Latest Post

Learning Community sebagai Model dalam Pembelajaran

Belawa...Joyce & Weil (1996) dalam bukunya ”Models of Teaching” memaparkan beberapa model pembelajaran dengan unsur-unsur dasar, yaitu (1) syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran, (2) social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran, (3) principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa, (4) support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan (5) instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects). Lima unsur tersebut dicoba dipaparkan pada bagian ini sehingga tergambar Model Learning Community yang dimaksud dalam penelitian ini.

Model Learning Community sulit didefinisikan secara jelas karena masih baru dan bersifat kompleks (Pancucci, 2007). Tetapi menurut Zhao & Kuh (2004), konsep learning community tidaklah baru sama sekali. Konsep ini diperkenalkan oleh Alexander Meiklejohn pada tahun 1920 (Smith dalam Zhao & Kuh, 2004). Pengembangan selanjutnya juga dilakukan pada tahun 1960 dan 1980. Bielaczyc & Collins (dalam Tastra et al., 2009) mengungkapkan bahwa komunitas belajar (learning communities) adalah suatu budaya belajar yang melibatkan setiap siswa untuk melakukan upaya-upaya kolektif dalam membangun pemahaman.

Tiga ide pokok dalam profesional learning community meliputi: 1) memastikan bahwa siswa belajar, 2) menciptakan budaya kolaboratif dan 3) fokus pada hasil (DuFour dalam Huges, 2006). Menurut Lenning dan Ebbers (dalam Zhao & Kuh, 2004), terdapat empat bentuk learning community. Salah satunya adalah learning community yang diterapkan dalam pembelajaran kelas. Pada bentuk ini, Model Learning Community sebagai lokus pembangunan komunitas yang dicirikan dengan teknik-teknik pembelajaran kooperatif dan aktivitas pembelajaran proses kelompok sebagai sebuah pendekatan pendidikan yang terintegrasi. Sesuai dengan latar belakang dan tujuan penelitian, Model Learning Community yang dimaksud pada penelitian ini adalah bentuk learning community yang diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

Secara lebih sfesifik, Markowitz, et al. (dalam Singh et al., 2009) mendefinisikan classroom learning communities sebagai sesuatu yang mendorong: (1) penghargaan terhadap perbedaan pelajar (budaya, bahasa, umur, dan sebagainya) dalam kelas; (2) kesediaan siswa untuk mengambil risiko intelektual dalam lingkungan belajar; (3) tujuan bersama untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan; dan (4) sebuah keterkaitan antara pelajar yang mengarah ke identitas umum dan rasa memiliki (sense of belonging). Karakteristik ini digunakan sebagai kerangka untuk mengembangkan strategi instruksional pengembangan learning community.

Learning community dilandasi oleh konstruktivisme sosial (Cross dalam Zhao & Kuh, 2004). Kontruktivisme sosial merupakan paradigma pembelajaran yang digagas oleh Vygotsky, pembelajaran berfokus pada proses dan interaksi dalam konteks sosial (Hung dalam Perry et al., 2009). Interaksi dan proses sosial mejadi perhatian dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal senada diungkapkan oleh Syamsuri dan Kennedy. Menurut Syamsuri (2007), learning community merupakan suatu konsep terciptanya masyarakat belajar di sekolah, yakni proses belajar membelajarkan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara masyarakat sekolah dengan masyarakat di luar sekolah, agar prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan. Menurut Kennedy (2009), learning community berusaha menggeser pembelajaran yang bersifat individual menjadi pembelajaran yang bersifat sosial. Ini berarti iklim kompetitif dalam kelas harus diubah menjadi iklim sosial, sehingga tidak terjadi kesenjangan intelektual dan pengalaman di antara siswa.

Kennedy (2009) juga mengungkapkan bahwa seorang guru dalam learning community lebih berperan untuk menawarkan pernyataan ulang, memberi klarifikasi, memberi contoh-contoh, memberikan ringkasan, memotivasi siswa untuk bekerja sebaik mungkin, serta menjadi pendengar yang aktif. Ini memberikan dasar bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa.

Engstrom & Tinto (2008) menunjukkan bahwa aspek dalam komunitas belajar (learning community) yang berkontribusi terhadap keberhasilan belajar adalah lingkungan yang aman dan mendukung proses pembelajaran. Lingkungan ini tercipta dengan menerapkan empat strategi kunci dalam menciptakan komunitas belajar. Empat strategi kunci itu meliputi (1) penggunaan strategi pembelajaran aktif dan kolaboratif, (2) pengembangan kurikulum yang koheren dan terpadu, (3) pengintegrasian layanan dan program satuan pendidikan dalam komunitas belajar, dan (4) pemberian dorongan dan dukungan kepada pebelajar untuk memiliki harapan yang tinggi.

Berdasarkan penelitian Engstrom & Tinto, dapat diambil dua hal penting dalam mengembangkan Model Learning Community. Pertama, bahwa seting pembelajaran kolaboratif sangat penting digunakan dalam model ini. Kedua, peran guru sebagai motivator dalam menumbuhkan ekspektasi dan rasa percaya diri siswa yang menjadi ciri yang khas dalam Model Learning Community. Pembelajaran kolaboratif dan eksperensial merupakan kunci dari learning community (Gabelnick et al. dalam Kent, 2009).

Sebagai sebuah model pembelajaran di kelas, konsep Panccuci sesuai untuk diadopsi dalam model ini. Menurut Panccuci (2007), learning community merupakan sebuah kelompok yang anggotanya terlibat secara aktif untuk belajar satu sama lain dengan karakteristik individu yaitu (1) kolaboratif mindset, (2) fokus pada pembelajaran, (3) fokus pada hasil, (4) orientasi kepada tindakan, (5) penemuan yang kolektif, (6) informasi yang relevan dan (7) komitmen untuk peningkatan berkelanjutan.

Tastra et al. (2009) mengembangkan model-model komunitas belajar berdasarkan filosofi John Dewey, psikologi behavioristik, psikologi sosial, dan psikologi kognitif. Konsep Dewey (Tastra, et al., 2009) dalam pendidikan bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Gagasan Dewey kemudian dikembangkan oleh Thelen menjadi teknik group investigation. Konsep Dewey dan pengembangan oleh Thelen inilah yang mendasari pengembangan model komunitas belajar group investigation oleh Tastra dan kawan-kawan.

Dilema Siswa Mengendarai Sepeda Motor ke Sekolah

Belawa. Siswa mengendarai sepeda motor adalah sebuah hal yang sangat dilematis. Satu sisi pastinya melanggar aturan perundangan Lalu Lintas, karena dipastikan para siswa SMP belum cukup umur mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi). Namun sisi lain, jarak rumah sebagian siswa ke sekolah yang bervariasi, ada yang jauh dan ada yang dekat. Khusus untuk siswa SMP 1 Belawa, hampir 70 % jarak rumah siswa di atas 3 kilometer. Artinya, jika jarak itu ditempu dengan berjalan kaki, bisa menghambat hal terkait dengan proses belajar mereka.

Pasca kecelakaan yang dialami Abdul Qadir Jaelani, bocah anak artis kondang Ahmad Dhani di Tol Jagorawi, masalah siswa mengendarai kendaraan bermotor menjadi populer di media. Sebagian daerah menganggap, siswa mengendarai sepeda motor tidak diperbolehkan, apapun alasan dan kondisi siswa di daerah itu. Tapi di beberapa daerah, siswa mengendarai sepeda motor adalah hal yang butuh kebijaksanaan saja. Siswa mengendarai sepeda motor, tidak bisa dilihat dalam kaca mata hukum, karena kondisi beberapa daerah tidak memungkinkan.

Khusus untuk siswa SMP Negeri 1 Belawa terkait siswa mengendarai sepeda motor selalu menjadi bahasan setiap pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua. Beberapa kebijakan terkait telah dikeluarkan, kesemuanya mengacu pada keselamatan siswa sebagai pengendara. Pernah diusulkan pelarangan dan mendapat sanggahan dari orang tua. "Motor bagi anak saya, satu-satunya motivasi agar dia bisa sekolah." Teriak seorang ibu dalam rapat.

Aparat kepolisian setempat pun pernah mengatakan, bahwa siswa mengendarai sepeda motor bukan diijinkan tapi hanyalah kebijakan. Ada warning tersirat dari ungkapan itu. Sepertinya, aparat juga menyadari, ada benturan kepentingan dari peraturan ini, melihat kondisi geografis berbagai daerah di Indonesia bervariasi. Semoga, tidak terjadi hal yang tidak dinginkan, sehingga hal ini tetap tidak dipandang dalam kaca mata hukum.

Cara Agar Siswa Aktif pada Bulan Ramadhan

Belawa... Bulan Ramadhan adalah bulan berkah penuh amal, baik siswa dan guru. Namun bagi siswa, bulan Ramadhan juga terkadang menjadi bulan kemalasan. Untuk itu, diperlukan trik dan cara tertentu agar siswa aktif mengisi hari dan malam-malam bulan Ramadhan.

Ramadhan 2013 menjadi sedikit berbeda bagi siswa dan sisiwi SMP 1 Belawa dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya berdasarkan hasil kesepakatan Panitia Pelaksana Pesantren Kilat SMP Negeri 1 Belawa sebelum bulan Ramadhan kemaren, para siswa diberi tugas khusus pada bulan Ramadhan.

Tugas khusus itu berupa kewajiban siswa untuk aktif pada malam-malam Ramadhan dan dibuktikan dengan rincian kehadiran. Rincian kehadiran yang dimaksud adalah tanda tangan dari imam shalat tarawih, dan tana tangan peceramah. Dengan begitu validitas kehadiran siswa lebih terjamin, karena mendapatkan dua paraf atau tanda tangan itu tidaklah mudah.

 Meskipun cara ini memang memiliki kelebihan dan mampu menguji kejujuran siswa, namun hal itu juga tak lepas dari kekurangan. Ada beberapa hal yang menjadi titik kekurangan dari cara ini, yaitu:
  1. Membebani siswa di luar waktu sekolah. Seperti yang telah ditetapkan oleh pemangku kepentingan pendidikan Kabupaten Wajo, bahwa semua sekolah diliburkan pada bulan Ramadhan, namun dibuatnya acara seperti ini, akan menjadi beban tambahan bagi siswa.
  2. Membebani peneramah atau petugas Ramadhan lainnya. Hal ini mutlak. Jumlah siswa yang sangat banyak dengan tugas ini membuat kerumunan di sekitar tempat imam dan ceramah selepas pelaksanaan shalat tarawih.
Dua masalah yang muncul dari kebijakan baik sekolah terhadap siswa, menjadi perhatian sekolah untuk kegiatan tahun ke depannya, terutama bagaimana mengantisipasi cara mengaktifkan siswa pada bulan Ramadhan.

Peraturan Baru Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU ASN); Peluang Honorer Makin Menipis

Dengan disetujuinya draf Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Draf final tersebut akan segera diserahkan ke DPR RI untuk disahkan. Dalam UU yang akan mereformasi kepegawaian negara itu rekrutmen dilakukan sesuai kebutuhan secara fair. PNS bukan lagi ditempatkan sebagai pekerjaan tetapi profesi.

Adanya UU ASN pemerintah memastikan hanya memberikan kesempatan mengikuti seleksi penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) bagi pegawai honorer sampai tahun 2005. Dari sekitar 500 ribu pegawai honorer di daerah maupun pusat sampai periode itu yang akan diterima hanya sepertiganya. Setelah periode itu (2006-2013) harus mengikuti seleksi secara fairness, Hal ini diutarakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Azwar Abubakar, di Jakarta, Jumat malam.

Tes seleksi bagi pegawai honorer, menurut Azwar, materinya sama dengan seleksi regular. Yakni meliputi tes kemampuan dasar, psiko test, dan wawasan kebangsaan. “Model ASN itu mengacu kepada pola rekturmen SDM, kelembagaan, dan tata laksana. Ke depan ASN itu harus bisa melayani lebih baik kepada warga negara maupun pengusaha,” katanya.

Terkait penerimaan PNS Azwar mengajak seluruh pejabat pembina kepegawaian (PPK) di pusat maupun daerah agar seleksi calon PNS 2013 ini dilaksanakan dengan bersih, obyektif, transparan, kompetitif dan bebas dari KKN, serta tidak dipungut biaya. Hal itu dikuatkan dengan surat edaran Menpan yang ditembuskan kepada Presiden RI, Wakil Presiden, dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Ada tiga poin krusial yang diatur dalam RUU ASN. Pertama mengenai aturan jenis pegawai di lembaga negara. Menurut Azwar, RUU ASN hanya mengenal dua jenis pegawai yakni pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). PPPK diangkat oleh pejabat negara sesuai kebutuhan dan dalam jangka waktu tertentu. Masa tugasnya berkisar dari satu hingga tiga tahun. "Nanti tidak ada lagi yang honorer. Jadi cuma ada dua macam, PNS dan PPPK," papar Azwar.

Poin krusial kedua yakni aturan promosi jabatan menggunakan sistem meritokrasi. Dengan sistem ini, pejabat eselon I dan II yang dipromosikan harus mengikuti uji kompetensi secara terbuka. Kemudian poin yang ketiga mengatur soal pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Azwar menjelaskan, komisi ini bertugas mengawasi proses rekrutmen pegawai di institusi pemerintah baik pusat dan daerah.



Azwar memastikan bahwa tugas KASN tidak akan tumpang tindih dengan kewenangan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Pasalnya, KASN hanya menjalankan fungsi monitoring dan tidak berwenang menerbitkan kebijakan. "Jadi Komisi Aparatur Sipil Negara ini hanya menjamin atau memonitor apakah setiap departemen di daerah terjadi proses meritokrasi atau menunjuk pejabat itu berdasarkan pemilihan yang fair," tandas menteri asal asal Aceh tersebut.

Selain ketiga poin di atas, RUU ASN juga mengatur tentang tahapan rekrutmen pegawai hingga besaran gaji dan tunjangannya. Pengesahan RUU ASN akan diikuti terbitnya 17 Peraturan Pemerintah (PP) dan tiga Peraturan Presiden untuk mendukung implementasinya.

Menurut Azwar UU ASN akan membawa perubahan besar dan mendasar dalam penataan birokrasi pemerintahan. Yakni kebiasaan-kebiasaan kerja birokrasi yang tidak produktif, buruk, dan berjalan di tempat, serta perubahan sistem birokrasi menjadi lebih baik. “Dengan UU ASN akan diperoleh PNS terbaik. Diharapkan akan memulihkan kepercayaan masyarakat karena membawa perubahan besar terutama pada perbaikan budaya kerja dan perbaikan sistem.”

Menanggapi persetujuan UU ASN oleh presiden, Ketua Komisi II DPR Agun Gunandjar Sudarsa mengatakan UU nantinya akan menjadi landasan hukum yang mendorong birokrasi pemerintahan menjadi lebih efektif, efisien, dan akuntabel. Diharapkan nantinya UU itu bisa mengurai birokrasi yang rumit dan terkooptasi oleh kekuasaan politikyang cenderung tertutup, lamban, serta sarat praktik KKN.

Sumber

Pengertian Writing

Belawa, 23 Juni 2013. Pengertian Writing

Writing pada hakikatnya adalah proses berkomunikasi dalam menulis kata-kata diatas kertas, atau dengan kata lain, menulis adalah melahirkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan. Jadi, kemampuan menulis ialah kemampuan dalam roses komunikasi yang dilakukan secara tertulis, kegiatan komunikasi tersebut menuntut adanya kemampuan menyusun pikiran dan perasaan dengan menggunakan kaidah-kaidah dengan behasa yanng baik dan benar. Kemampuan menuliskan ejaan dan fungtuasi yang tepat dan wawasan yang memadai.

Lazimnya kita tidak dapat menulis dalam satu kalimat saja, tetapi membuat serangkaian kalimat yang disusun menurut ketentuan, kemudian dihubungkan pada cara tertentu. Rangkaian kalimat ini pendek dan boleh dua jata atau tiga kalimat saja, bentuk-bentuk semacam ini biasa disebut “Teksi”.

Sebelum melangkah lebih jauh dalam writing maka seorang penulis memerlukan bahan yang dapat disampaikan agar dapat melahirkan pikiran dan perasaan agar dapat dibaca dan dimengerti oleh orang lain. Bahan-bahan tersebut dapat diperoleh melalui empat sumber, yaitu pengalaman, pengamatan, daya khayal (imajinasi), pendapat dan keyakinan.

Potensi Non-fisik yang Penting dalam Proses Pendidikan

Pembahasan tentang potensi Non-fisik yang penting dalam proses pendidikan ini akan diuraikan secara singkat dan populer tentang potensi non-fisik antara lain mengenai: kecerdasan emosional dan lain-lain yang mesti ada dalam kegiatan-kegiatan wirausaha yang pada masa akhir-akhir ini sedang ditumbuh-kembangkan oleh berbagai pihak.

Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)

Kecerdasar emosional terjemahan dari emotional quotion (EQ). Menurut Laurence E Syapiro (1997) EQ adalah himpunan dari berbagai fungsi jiwa yang melibatkan kemampuan memantau itensitas perasaan/emosi, baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain, memiliki keyakinan tentang dirinya (percaya diri) dan penuh dengan antusias, pandai memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi sehingga dapat membimbing pikiran dan tidakannya. Seseorang yang tinggi kualitas EQ-nya dalam kinerjanya tampak adanya keuletan dan kekenyalan, selalu dapat menahan diri dalam mengalami frustasi/stres atau himpitan keadaan dalam rangka mencapai atau memperjuangkan sesuatu yang menjadi cita-cita yang ingin dicapainya.

Walaupun masih ada sebagian ahli belum sepakat apakah EQ ini dapat diukur atau tidak, orang-orang yang di dalam dirinya terdapat potensi ini, dalam kepribadiannya terdapat ciri-ciri, yaitu empati, mampu mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah menyesuaikan diri berjuang dan survive dalam situasi yang bagaimana termasuk dalam keadaan rawan, disukai oleh apa dan siapa saja yang ada di sekitarnya, memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah, tekun dalam menangani tugas-tugas yang diembannya, setia kawan dengan mitranya

Siapa yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) pada umumnya dalam menggeluti usahanya selalu gigih, ulet, konsisten (ajeg) dan tahan uji/andal dalam menghadapi situasi yang paling pahit dan berat.

Kreativitas (creativity quotient)

Istilah ini berasal dari kata creativity, creatie berarti ciptaan, creativity berarti penciptaan. Adanya kreativitas yang tinggi dalam kepribadian berarti terdapat kecenderungan untuk menciptakan sesuatu yang dipandang baru dan bermanfaat dalam kehidupan. Orang yang kreatif sering juga dianggap sebagai orang yang inovatif, selalu berminat untuk menemukan yang baru dan original (keaslian), tidak hanya meniru/mengekor terhadap sesuatu yang telah dikerjakan orang lain.

Kecerdasan Ruhaniah (Spiritual Quotient atau SQ)

SQ adalah suatu kemampuan untuk memahamai dan menggali motif terdalam dari kehidupan ini. Dengan kemampuan ini seseorang dapat mengenal Tuhan, meyakininya dan mencintainya. Seseorang tidak dapat mencintai Tuhan secara benar sebelum ia mencintai sesama manusia secara tulus. SQ yang tinggi kadarnya sangat berkaitan dengan EQ dan CQ

Etos Kerja (EK)

Istilah etos salah satu artinya adalah semangat, etos kerja artinya semangat bekerja. Siapa yang etos kerjanya tinggi selalu bergairah/ bersemangat dalam menjalani kegiatan kerja yang telah diputuskan menjadi bagian dari kehidupannya. Mereka seolah-olah tidak mengenal lelah dan putus asa dalam menggeluti tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Betapapun berat dan sulitnya kegiatan kerja yang menjadi tanggung jawabnya, ia selalu menggeluti tugasnya itu dengan rasa ikhlas dan lapang dada; ia senantiasa merasa senang dan tenang dalam menjalankan tugasnya. Dengan penuh kesadaran, tugas yang diembannya itu adalah salah satu ibadah bahkan setara dengan ibadah wajib menurut ajaran agama Islam.

Dengan memperhatikan uraian di atas kita dapat merasakan bahwa produk pendidikan yang terjadi pada masa lalu di negeri ini baru terfokus pada kuantitas lulusan belum menyentuh dari sisi kualitas pendidikan, berorientasi pada aspek kognitif dan kemampuan psikomotor yang kurang optimal dan belum banyak menyentuh aspek non fisikal terutama dari sisi pengembangan EQ, CQ dan, SQ secara optimal.
 
Modified : Celoteh Guru
Copyright © 2011. SMPN I Belawa Kab. Wajo - All Rights Reserved
Web Created by Mushlihin Published by #RM
Proudly powered by Blogger